Gara Gara Motor Koplingan

Kamis, 29 Juni 2017

Gara Gara Motor Koplingan



Tri duduk dibangku SMP, ia bersekolah di SMP MULIA yang berada di Komplek Duku, Tri tinggal di Komplek Ceri. Ia berangkat sekolah menggunakan sepada motor varionya, padahal Tri baru berusia 15 tahun. Tapi karena jarak Komplek Ceri dan Komplek Duku lumayan jauh, maka orang tua Tri mengizinkannya untuk mengendarai motor asal tidak kebut-kebutan dijalan. Sekolah menyediakan tempat parkir khusus motor untuk siswa, tapi berada diluar sekolah, disekolah hanya boleh untuk sepeda siswa dan sepeda motor guru.
            Tri biasanya menghampiri Joko untuk berangkat bersama. “Ko….Joko.” panggil Tri dari depan gerbang rumah Joko, “Iya Tri, sebentar.” Saut Joko. Tidak lama kemudian, Joko keluar dari rumah sambil menuntun motor vixion, motor itulah yang biasa dipakai untuk berangkat sekolah. “Ayo Tri…nanti telat nih.” Ajak Joko. Mereka langsung meluncur menuju sekolahan. Sesampainya di parkiran motor siswa, karena parkirannya berada diluar sekolah, mereka harus jalan kaki menuju sekolah. “Eh Tri, kamu dirumah Cuma punya Vario itu ya?” tanya Joko “Iya..memang kenapa.” Tri kembali tanya. “Tri...sekarang laki-laki udah nggak jaman pake matic, pake motor laki-laki dong kaya punya aku. Kamu liat kan, semua anak laki-laki disekolah pake motor-motor gede semua.” ucap Joko, “Waah…gimana ya, yang jadi masalahnya, aku kan nggak bisa pakai motor kopling.” jawab Tri, “Alaah…kalau kamu mau, nanti aku ajarin. Kamu boleh pakai motorku buat latihan, nanti aku tunjukkin tutorialnya, ok.” ajak Joko. “Waah…ide bagus, ya udah. Gimana kalo nanti sehabis pulang sekolah, aku ke rumahmu?” tanya Tri, “Siaap” jawab Joko.
            Sesuai janji Joko, Joko akan mengajari Tri cara mengendarai motor kopling. Setelah pulang sekolah, Tri langsung ganti baju dan pergi ke rumah Joko. Joko sudah menunggu didepan rumah begitu pula motor vixionnya. “Eh Tri, gimana, siap latihan belum?” tanya Joko. “Ya siap dong.” Jawab Tri.
           
“Kamu bonceng aku dulu, biar kujelaskan caranya.” Jelas Joko, “Pertama jika motornya sudah nyala, tarik tuas koplingnya, masukkan persneling, kan sudah masuk satu, Tarik gasnya sambil melepas tuas kopling pelan-pelan, harus serasi, pakai perasaan. Nah, udah jalan nih. Sekarang masuk kepersneling dua, caranya kurangi gasnya sedikit, tarik koplingnya, injak bagian belakang persneling, itu caranya agar bisa masuk dua dan seterusnya. Gimana jelas belum?” Joko sudah menjelaskan secara detail. “Ok, aku coba.” Jawab Tri.
            Tri mempraktikkan apa yang telah diajarkan oleh Joko. Pertamanya sedikit grogi, kopling saja masih suka lupa ditarik saat mau jalan, jadi mesin otomatis mati. Tapi Tri tidak putus asa, Tri tetap mencoba. Lama-kelamaan, Tri akhirnya bisa menjalankan dan mengendalikan motor tersebut. Tuas kopling sudah tidak lupa ditarik saat mau jalan, ia sangat senang sekali. “Nah, begitu Tri. Ayo terus, coba tambah sedikit kecepatannya, tapi jangan ngebut, kan ini jalan komplek.” Ingat Joko. Tanpa sengaja Ayah Tri melihat anaknya sedang mengendarai motor, dilihat-lihat anaknya sedang berlatih pakai motor laki-laki. Dalam hati, Ayah Tri mempunyai niat agar anaknya senang saat ulang tahunnya besok.
            Setelah Tri mengelilingi komplek dengan Joko, akhirnya sampai lagi dirumah Joko dan menyudahi latihannya. “Jok, terima kasih ya, udah ngajarin aku. Gimana menurutmu, tadi aku latihannya?” tanya Tri, “Iya sama-sama, tadi kamu juga udah bagus kok ngendarainnya, juga udah lancar narik koplingnya sama pindah persnelingnya. Pokoknya sip deh.” Puji Joko. Setelah latihan, Tri langsung pulang kerumah untuk istirahat karena kelelahan latihan tadi. Dia juga ingat hari ulang tahunnya besok Minggu, kira kira apa yang akan diberikan di hari ulang tahunnya.
            Keesokan harinya, hari ini adalah hari ulang tahun Tri. Di meja makan, sudah disambut oleh ayah, ibu, dan adik Tri. “Selamat ulang tahun Tri.” Semuanya bersorak gembira, “Terima kasih Ayah, Ibu, dan Akila.” Jawab Tri. “Tri…nanti jam Sembilan kamu ikut Ayah ya.” Bilang Ayahnya. Sebenarnya Tri bingung, mau diajak kemana jam sembilan pagi. Tapi Tri menahan pertanyaannya, Tri langsung menyantap sarapan yang ada di meja makan. Setelah sarapan, Tri mandi dan bersiap-siap untuk diajak Ayahnya. “Sebenarnya kita mau kemana Ayah?” tanya Tri, “Udah nanti kamu juga tau.” Jawab Ayahnya. Tri semakin penasaran, mau kemana kita sebenarnya. Saat dua puluh menit perjalanan, mereka sampai di sebuah tempat penjualan motor Yamaha yang sangat besar. Ternyata niat Ayah Tri adalah untuk membelikan sebuah motor untuk hadiah ulang tahunnya. “Kamu coba liat liat sana, mana motor yang kamu suka.” Suruh Ayahnya, Tri langsung melihat berbagai macam motor, ada yang koplingan, matic, masukkan, dan banyak lagi. Tapi Tri ingin membeli motor seperti punya Joko. Saat mencari, ia akhirnya menemukan motor vixion yang sangat keren dari punya Joko. “Ayah, yang ini yah!” Tri memanggil Ayahnya. “Itu memang Vixion model baru, dan baru ada diskon.” Bilang Seller motor. “Ya sudah, jadi yang ini kan Tri?” tanya Ayahnya, “Iya yah.” Jawab Tri dengan sangat senang.
            Setelah membeli, Tri dan Ayahnya pulang dan menunggu motor itu diantarkan kerumahnya. Setelah setengah jam menunggu, akhirnya motornya datang dan Tri langsung menaiki motor tersebut. “Tri, kamu tidak boleh sembarangan ya pakai motor ini, jangan ngebut ngebut.” Ingat Ayahnya. Tri langsung membawa motor tersebut ke rumah Joko untuk menunjukkan motor barunya, “Waah…Tri, kamu habis beli motor baru ya?” tanya Joko, “Iya, ini hadiah ulang tahunku.” Jawab Tri. Tri ingin memamerkan kemampuan mengendarainya kepada Joko, dia stater lagi motornya dan siap melaju. Tapi karena Tri terlalu bersemangat, dia langsung mengegas motornya dengan kencang, tiba-tiba Tri kehilangan kendali karena motornya melaju sangat kencang dan didepannya ada kandang ayam milik Pak RT, “bruuuug….krosak..krosak....” suara motor Tri yang menabrak kandang ayam. “Woooy….siapa yang nabrak kandang ayamku?” teriak Pak RT dari dalam rumah sambil melihat kandang ayamnya yang hancur berantakan. “Maaf Pak….” Batin Tri sambil kebingungan harus berbuat apa.





Pesan moral : Janganlah kita sombong bila sudah menguasai sesuatu hal yang baru kita pelajari

0 komentar :

Posting Komentar