Penyesalan Doni

Jumat, 30 Juni 2017

Penyesalan Doni



Doni dan Dani adalah kakak beradik, Doni adalah kakaknya. Mereka berdua bersekolah di sekolah dasar yang berada di Desa Mangga 2, mereka berdua selalu berseragam dengan rapi sesuai jadwal seragam yang ada, dengan seragam yang disetrika begitu halus dan sepatu hitam yang dilap setiap hari sehingga hitamnya terlihat sangat enak dilihatnya. Mereka adalah anak yang pandai dan rajin disekolahnya. Tetapi sayang, Doni kakaknya adalah anak yang suka memikirkan dirinya sendiri, egois, dan merasa dirinya adalah yang paling pandai dikelas. Tetapi tidak dengan adiknya, Dani justru selalu ingin membantu teman-temanya dan berbagi ilmu yang dimilikinya, tidak hanya untuk dirinya sendiri. Teman-teman yang lain cenderung lebih suka berteman dengan Dani daripada Doni, Doni juga memiliki teman tapi hanya beberapa saja, Doni juga sering dijauhi oleh teman teman yang lain karena Doni sering sekali mengucapkan kata kata yang kotor dan kasar yang tidak layak diucapkan sebagai seorang pelajar. Doni sudah berulang kali dinasehati oleh Bu Narti seorang guru bahasa Indonesia, bahkan sampai pernah dipanggil oleh Guru BP, tapi semua itu dianggap tidak penting bagi dirinya.
            “Teeet…..teeet…..teet” Bel istirahatpun berbunyi, pintu kelas memuntahkan banyak siswa siswi yang segera pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka dengan harapan pelajaran selanjutnya bisa lebih fokus memerhatikan. Kantin sebelah selatan selalu dikerumuni oleh anak perempuan, mungkin hanya ada satu atau dua anak laki-laki yang jajan disitu, itupun saat kantin sudah sepi dan jajanan jajanan sudah laris terjual. Untung sekolah mempunyai dua kantin, yang satunya lagi berada di sebelah utara dekat musholla. Jadi anak laki-laki tetap bisa jajan dengan tenang tanpa berdesakkan dengan anak perempuan. “Bu, mendoannya empat bu!” teriak Doni sambil menyerahkan uang pas ke Ibu kantin. Tentunya keempat mendoan itu dimakan sendiri oleh Doni, Doni tidak menawarkan mendoannya ke teman yang lain. Sedangkan Dani hanya membeli dua mendoan, mendoan yang satu lagi ternyata diberikan untuk kawannya yang bernama Iwan, Iwan sering tidak diberi uang saku karena keluarganya yang kurang mampu, jika diberi paling hanya pas-pasan. “Wan, ini ambil satu mendoan dariku” bilang Dani, “waaah, terima kasih ya Dan. Kau memang teman yang baik.” Balas Iwan sambil memakan mendoan tersebut karena kelaparan.
         
   “Teeet….teeet….teeet.” bel masuk berbunyi, anak anak segera meninggalkan kantin dan masuk ke kelas. Pelajaran selanjutnya dikelasnya Dani dan Doni adalah IPS bab sejarah. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Salam Bu Maslahah. “Walaikum salam Bu Mas.” Jawab murid-murid. Pelajaran sejarah memang agak membingungkan, tidak jarang murid harus membolak balik buku agar bisa memahami betul. Bu Maslahah memang guru IPS yang paling disukai oleh murid-murid, karena cara menerangkan yang begitu detail, menggunakan bahasanya sendiri agar lebih mudah dipahami oleh murid-murid. Doni cukup pintar dalam pelajaran IPS sejarah, nilainya selalu 90 keatas dalam pelajaran sejarah. Karena nilainya itu, Doni terlalu menyepelekan sejarah karena dianggap sangat mudah. Setelah satu jam pelajaran, materi yang disampaikan Bu Mas sudah selesai dan tinggal ulangan harian. “Anak-anak, karena bab 3 tentang kemerdekaan Indonesia sudah selesai, jadi Sabtu besok kita ulangan ya, ada waktu tiga hari untuk mempersiapkan.” Jelas Bu Mas. “Baik Bu Mas.” Jawab murid-murid.
            “Hah, ini mah pelajaran yang gampang. Pasti aku besok menjadi yang tertinggi lagi.” Ujar Doni, “hhmm, sombong sekali si Doni.” Murid perempuan membatin Doni. Optimis memang betul, tapi Doni seperti terlalu menyepelekan dan juga sombong. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, saatnya siswa siswi SD Mangga 2 untuk pulang kerumah masing masing. Saat malam hari, Dani membuka kembali materi yang telah disampaikan oleh Bu Mas untuk mempersiapkan ulangan hariannya besok, sedangkan Doni malah bermain Play Station di kamarnya. “Kak Doni, Kakak tidak membuka kembali materi yang tadi, cukup banyak lo kak. Kalau tidak dipelajari dari sekarang, nanti Kakak malah bingung belajarnya.” Ingat Dani. “Alaaah itu mah pelajaran gampang, Kakak nggak usah belajar pasti bisa kok, kamu liat nggak nilai-nilai Kakak sejarah, bagus bagus kan, pasti besok kakak bisa ngerjain soalnya. Udah sana, Kakak lagi main.” Gerutu Kakaknya. Dani hanya bisa diam, takut kalau memperpanjang pembicaraan ini, Kakaknya akan merasa terganggu dan mulai marah kepadanya.
            Hari demi hari dan tiga hari itu telah tiba, jam pelajaran Bu Maslahah adalah jam pelajaran pertama. Sebelum Bu Mas datang, banyak murid yang menggunakan waktu tersebut untuk menghafalkan kembali apa yang telah mereka pelajari di rumah. Teman-teman yang lain sibuk belajar, tetapi Doni malah hanya duduk manis sambil memandang teman-temannya yang kurang kerjaan. “Halaaah….buat apa diulang-ulang terus, cuma beban-bebanin pikiran doang!” sindir Doni, teman-teman yang lain hanya diam saja mengabaikan perkataan Doni. Lima menit kemudian, Bu Mas akhirnya tiba di kelas. “Maaf saya terlambat ya, sudah siap ulangan?” tanya Bu Mas, “Siap Bu Mas!” seru murid-murid. Bu Mas mengeluarkan soal dan membagikannya kepada murid-murid, setelah Doni membuka soalnya dan membaca soal demi soal, ternyata banyak materi yang belum dipelajari oleh Doni dan tidak ingat apa-apa semua materi yang dijelaskan. “Waduuh….kok soalnya kaya gini sih, susah amat!” keluh Doni, Doni mengerjakan hanya bisa beberapa soal, hampir 90% tidak bisa mengerjakan apa-apa. Dia ingin mencoba melirik jawaban temannya, tapi Bu Mas selalu mengawasi dan memandangi Doni, Doni kesulitan untuk menyontek. Doni mengerjakan apa adanya. Setelah satu jam, waktu ulangan habis dan murid-murid mengumpulkan hasil pekerjaannya. Doni takut dengan jawabannya, tapi mau apa lagi. Setelah Bu Mas mengoreksi hasil pekerjaan siswa, Bu Mas memberikan hasil pekerjaan mereka. Alangkah kagetnya Doni saat melihat nilainya, Doni hanya mendapat nilai 50, sedangkan adiknya Dani mendapat nilai 95. Sungguh penurunan drastis nilai milik Doni, ternyata hanya Doni yang nilainya dibawah KKM dan harus mengulang. Seisi kelas menyoraki Doni, “Huuuu….. makanya jadi anak jangan sombong….huuuu” ledek Ahmad. Seluruh siswa sangat puas dengan hasil yang didapat, tapi Doni hanya bisa merasakan malu.


Pesan Moral : Kesombongan akan mendatangkan kemalangan 

0 komentar :

Posting Komentar