Penyesalan Doni
Doni dan
Dani adalah kakak beradik, Doni adalah kakaknya. Mereka berdua bersekolah di
sekolah dasar yang berada di Desa Mangga 2, mereka berdua selalu berseragam
dengan rapi sesuai jadwal seragam yang ada, dengan seragam yang disetrika begitu
halus dan sepatu hitam yang dilap setiap hari sehingga hitamnya terlihat sangat
enak dilihatnya. Mereka adalah anak yang pandai dan rajin disekolahnya. Tetapi
sayang, Doni kakaknya adalah anak yang suka memikirkan dirinya sendiri, egois,
dan merasa dirinya adalah yang paling pandai dikelas. Tetapi tidak dengan
adiknya, Dani justru selalu ingin membantu teman-temanya dan berbagi ilmu yang
dimilikinya, tidak hanya untuk dirinya sendiri. Teman-teman yang lain cenderung
lebih suka berteman dengan Dani daripada Doni, Doni juga memiliki teman tapi
hanya beberapa saja, Doni juga sering dijauhi oleh teman teman yang lain karena
Doni sering sekali mengucapkan kata kata yang kotor dan kasar yang tidak layak
diucapkan sebagai seorang pelajar. Doni sudah berulang kali dinasehati oleh Bu
Narti seorang guru bahasa Indonesia, bahkan sampai pernah dipanggil oleh Guru
BP, tapi semua itu dianggap tidak penting bagi dirinya.
“Teeet…..teeet…..teet” Bel
istirahatpun berbunyi, pintu kelas memuntahkan banyak siswa siswi yang segera
pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka dengan harapan pelajaran selanjutnya
bisa lebih fokus memerhatikan. Kantin sebelah selatan selalu dikerumuni oleh
anak perempuan, mungkin hanya ada satu atau dua anak laki-laki yang jajan
disitu, itupun saat kantin sudah sepi dan jajanan jajanan sudah laris terjual.
Untung sekolah mempunyai dua kantin, yang satunya lagi berada di sebelah utara
dekat musholla. Jadi anak laki-laki tetap bisa jajan dengan tenang tanpa
berdesakkan dengan anak perempuan. “Bu, mendoannya empat bu!” teriak Doni
sambil menyerahkan uang pas ke Ibu kantin. Tentunya keempat mendoan itu dimakan
sendiri oleh Doni, Doni tidak menawarkan mendoannya ke teman yang lain.
Sedangkan Dani hanya membeli dua mendoan, mendoan yang satu lagi ternyata
diberikan untuk kawannya yang bernama Iwan, Iwan sering tidak diberi uang saku
karena keluarganya yang kurang mampu, jika diberi paling hanya pas-pasan. “Wan,
ini ambil satu mendoan dariku” bilang Dani, “waaah, terima kasih ya Dan. Kau
memang teman yang baik.” Balas Iwan sambil memakan mendoan tersebut karena
kelaparan.
“Teeet….teeet….teeet.” bel masuk berbunyi, anak anak segera meninggalkan kantin dan masuk ke kelas. Pelajaran selanjutnya dikelasnya Dani dan Doni adalah IPS bab sejarah. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Salam Bu Maslahah. “Walaikum salam Bu Mas.” Jawab murid-murid. Pelajaran sejarah memang agak membingungkan, tidak jarang murid harus membolak balik buku agar bisa memahami betul. Bu Maslahah memang guru IPS yang paling disukai oleh murid-murid, karena cara menerangkan yang begitu detail, menggunakan bahasanya sendiri agar lebih mudah dipahami oleh murid-murid. Doni cukup pintar dalam pelajaran IPS sejarah, nilainya selalu 90 keatas dalam pelajaran sejarah. Karena nilainya itu, Doni terlalu menyepelekan sejarah karena dianggap sangat mudah. Setelah satu jam pelajaran, materi yang disampaikan Bu Mas sudah selesai dan tinggal ulangan harian. “Anak-anak, karena bab 3 tentang kemerdekaan Indonesia sudah selesai, jadi Sabtu besok kita ulangan ya, ada waktu tiga hari untuk mempersiapkan.” Jelas Bu Mas. “Baik Bu Mas.” Jawab murid-murid.
“Hah, ini mah pelajaran yang
gampang. Pasti aku besok menjadi yang tertinggi lagi.” Ujar Doni, “hhmm,
sombong sekali si Doni.” Murid perempuan membatin Doni. Optimis memang betul,
tapi Doni seperti terlalu menyepelekan dan juga sombong. Jam sudah menunjukkan
pukul dua belas siang, saatnya siswa siswi SD Mangga 2 untuk pulang kerumah
masing masing. Saat malam hari, Dani membuka kembali materi yang telah disampaikan
oleh Bu Mas untuk mempersiapkan ulangan hariannya besok, sedangkan Doni malah
bermain Play Station di kamarnya.
“Kak Doni, Kakak tidak membuka kembali materi yang tadi, cukup banyak lo kak.
Kalau tidak dipelajari dari sekarang, nanti Kakak malah bingung belajarnya.”
Ingat Dani. “Alaaah itu mah pelajaran gampang, Kakak nggak usah belajar pasti
bisa kok, kamu liat nggak nilai-nilai Kakak sejarah, bagus bagus kan, pasti
besok kakak bisa ngerjain soalnya. Udah sana, Kakak lagi main.” Gerutu Kakaknya.
Dani hanya bisa diam, takut kalau memperpanjang pembicaraan ini, Kakaknya akan
merasa terganggu dan mulai marah kepadanya.
Hari demi hari dan tiga hari itu
telah tiba, jam pelajaran Bu Maslahah adalah jam pelajaran pertama. Sebelum Bu
Mas datang, banyak murid yang menggunakan waktu tersebut untuk menghafalkan
kembali apa yang telah mereka pelajari di rumah. Teman-teman yang lain sibuk
belajar, tetapi Doni malah hanya duduk manis sambil memandang teman-temannya
yang kurang kerjaan. “Halaaah….buat apa diulang-ulang terus, cuma beban-bebanin
pikiran doang!” sindir Doni, teman-teman yang lain hanya diam saja mengabaikan
perkataan Doni. Lima menit kemudian, Bu Mas akhirnya tiba di kelas. “Maaf saya
terlambat ya, sudah siap ulangan?” tanya Bu Mas, “Siap Bu Mas!” seru
murid-murid. Bu Mas mengeluarkan soal dan membagikannya kepada murid-murid,
setelah Doni membuka soalnya dan membaca soal demi soal, ternyata banyak materi
yang belum dipelajari oleh Doni dan tidak ingat apa-apa semua materi yang
dijelaskan. “Waduuh….kok soalnya kaya gini sih, susah amat!” keluh Doni, Doni
mengerjakan hanya bisa beberapa soal, hampir 90% tidak bisa mengerjakan
apa-apa. Dia ingin mencoba melirik jawaban temannya, tapi Bu Mas selalu
mengawasi dan memandangi Doni, Doni kesulitan untuk menyontek. Doni mengerjakan
apa adanya. Setelah satu jam, waktu ulangan habis dan murid-murid mengumpulkan
hasil pekerjaannya. Doni takut dengan jawabannya, tapi mau apa lagi. Setelah Bu
Mas mengoreksi hasil pekerjaan siswa, Bu Mas memberikan hasil pekerjaan mereka.
Alangkah kagetnya Doni saat melihat nilainya, Doni hanya mendapat nilai 50,
sedangkan adiknya Dani mendapat nilai 95. Sungguh penurunan drastis nilai milik
Doni, ternyata hanya Doni yang nilainya dibawah KKM dan harus mengulang. Seisi
kelas menyoraki Doni, “Huuuu….. makanya jadi anak jangan sombong….huuuu” ledek
Ahmad. Seluruh siswa sangat puas dengan hasil yang didapat, tapi Doni hanya
bisa merasakan malu.
Pesan Moral : Kesombongan akan mendatangkan kemalangan
0 komentar :
Posting Komentar